Sepak Sawut Meriahkan FBIM, Tradisi Dayak Tetap Menyala
- May 21, 2026
- Nova Silvia
Palangka Raya – Cahaya api yang menyala di tengah lapangan malam hari menjadi pemandangan yang memikat perhatian pengunjung Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Bukan sekadar pertandingan olahraga biasa, permainan tradisional Sepak Sawut kembali hadir sebagai salah satu atraksi budaya yang paling ditunggu dalam perhelatan tahunan tersebut.
Permainan khas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah ini menghadirkan sensasi berbeda. Jika sepak bola umumnya menggunakan bola berbahan kulit atau sintetis, Sepak Sawut dimainkan menggunakan buah kelapa tua yang dibakar hingga menyala, menciptakan perpaduan antara olahraga, tradisi, dan keberanian.
Koordinator Lomba Sepak Sawut FBIM 2026, Edo Nugraha menjelaskan, bola api yang digunakan berasal dari buah kelapa tua yang dikupas hingga menyisakan serabutnya. Kelapa tersebut kemudian direndam semalaman menggunakan minyak tanah agar api dapat bertahan selama pertandingan berlangsung.
“Cara bermainnya memang mirip seperti sepak bola atau futsal. Perbedaannya, permainan ini menggunakan buah kelapa yang direndam semalaman menggunakan minyak tanah agar saat pertandingan dimulai bolanya tetap menyala dan apinya bertahan lebih lama,” ujar Edo, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, penggunaan buah kelapa sebagai bola permainan bukan sekadar keunikan semata, melainkan bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah.
“Bola yang digunakan memang bukan bola seperti sepak bola pada umumnya, melainkan buah kelapa karena dari dahulu permainan ini memang menggunakan media tersebut,” katanya.
Dalam setiap pertandingan, dua tim saling berhadapan dengan komposisi tujuh pemain, terdiri atas lima pemain inti dan dua pemain cadangan. Pertandingan berlangsung selama dua babak, masing-masing 10 menit, dengan waktu istirahat lima menit.
Di balik kobaran api yang menghiasi lapangan, tersimpan nilai budaya yang kuat. Sepak Sawut bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga simbol kekayaan tradisi yang terus dijaga keberadaannya di tengah perkembangan zaman.
Edo menegaskan, kehadiran Sepak Sawut dalam rangkaian FBIM merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda dan masyarakat luas.
“Permainan rakyat Sepak Sawut ini merupakan warisan budaya asli masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Karena itu melalui FBIM kami ingin terus menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya ini kepada masyarakat luas,” ungkapnya.
Melalui Festival Budaya Isen Mulang, Sepak Sawut kembali membuktikan bahwa tradisi tidak hanya dapat dikenang, tetapi juga terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah. Kobaran api dari bola kelapa yang bergulir di lapangan pun menjadi simbol semangat masyarakat Dayak dalam menjaga warisan budaya agar tetap menyala dari generasi ke generasi.